Seorang
manusia yang berfikir dan mengetahui cara berfikir selalu dapat menglahkan
sepuluh orang yang tidak berfikir dan tidak mengetahui cara berfikir (George
Bernard Shaw, sastrawan dan filosof terkemuka inggris). Para ilmuwan
menyimpulkan bahwa kecerdasan tidaklah tetap. Ia sangat dipengaruhi oleh
seberapa besarnya ia digunakan. Semakin banyak kita menggunakan otak, semakin
banyak pula koneksi antara sel-sel otak yang kita buat. Semakin banyak koneksi
di antara sel otak, semakin besar pula potensi kita untuk berfikir secara
cerdas.
OTAK
TERUS BERKEMBANG
Pada
tahun 1874, Charles Darwin melaporkan bahwa otak kelinci jinak lebih kecil
apabila dibandingkan dengan otak kelinci liar. Ia menyimpulkan bahwa pengecilan
otak ini disebabkan Karena kelinci peliharaan tidak lagi menggunakan
pikirannya, nalurinya, atau penginderaannya. Penelitian ini sekaligus
membantahkan mitos yang dipercaya oleh orang awan selama ini, bahwa otak tidak
dapat berkembang. Faktor genetic bukanlah penyebab bodoh atau pintarnya
seseorang. Buktinya, banyak orangtua yang hanya lulusan sekolah dasar, tetapi
ternyata anaknya memiliki kecerdasan luar biasa. Banyak orangtua yang
berpendidikan tinggi tapi anaknya pemalas dan bodoh. Walaupun ada kemungkinan
jika orangtua pintar matematika maka anak akan pintar matematika. Tapi
lingkinganlah yang sangat berpengaruh menjadikan seseorang pintar atau bodoh.
Dr. Marian Diamond mengatakan “Otak dapat berubah secara positif jika dihadapkan
pada lingkungan yang diberi rangsangan. Sebaliknya, otak dapat menjadi negative
jika tidak diberi rangsangan.”
Pada tahun 1815, seorang
ilmuwan bernama Spurzheim mengamati bahwa ukuran organ akan bertambah jika
dilatih. Otot-otot
akan membesar jika dikembangkan dengan olahraga. Spurzheim memperluas teori ini
dari “otot” ke “otak”. Ia melaporkan bahwa otak, seperti otot, akan menguat
dengan berolahraga. Mengapa? “Karena
darah dibawa dalam jumlah yang banyak kepada bagian-bagian yang dirangsang dan
nutrisi dilakukan oleh darah.”
No comments:
Post a Comment