Saturday, February 8, 2014

Pengaruh Pola Asuh Orangtua Terhadap Konsep Diri Remaja



BAB I
PENGENALAN
1.1  Pendahuluan
Dalam bab ini peneliti akan membahas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional dan kesimpulan.
1.2  Latar Belakang
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria (Mappiare,1982 dalam Mohammad Ali, Mohammad Asrori, 2009). Perkembangan remaja adolences memiliki arti yang cukup luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa aman, atau paling tidak sejajar (Piaget dalam Hurlock, 1991).
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk golongan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja sering dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik dan psikisnya (Monks dkk, 1989 dalam Mohammad Ali, Mohammad Asrori, 2009). Pada masa ini merupakan masa-masa sulit bagi remaja dalam beradaptasi terhadap tumbuh kembang yang dihadapinya, termasuk pembentukan konsep diri merupakan inti dari kepribadian (Hurlock, 1973 dalam Mohammad Ali, Mohammad Asrori, 2009).
Konsep diri (self concept) bukan merupakan faktor bawaan lahir akan tetapi merupakan faktor yang terbentuk dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa dan proses belajar terhadap nilai-nilai, sikap, peran dan identitas dalam hubungan interaksi (Nurus Safa’ah, 2009).
Pembentukan konsep diri pada remaja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya lingkungan dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Pola asuh menurut Syamsu Yusuf adalah model pola asuh atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orangtau dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga anak dewasa. Sikap atau respon orangtua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negative ataupun lingkungan yang kurang mendukung cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Ini disebabkan sikap orangtua yang suka misalnya suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan disebabkan sikap orang tua yang misalnya  suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, suka marah-marah dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan ataupun kebodohan dirinya. Jadi anak akan menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan. Jika lingkungan dan orangtua memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif (dalam Edwi Arief Sosiawan, 2013).
1.3  Rumusan Masalah
Bagaimana pola asuh orang tua terhadap konsep diri remaja?
1.4  Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri remaja.
1.5  Manfaat Penelitian
Peneliti mengharapkan penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi peneliti lain yang ingin mengkaji masalah ini.
1.6  Kerangka Konseptual
Pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri remaja
Pola asuh orang tua
 




Konsep diri                                       remaja
 

          

Pengaruh pola asuh orang tua terhadap konsep diri remaja


1.7  Definisi Operasional
a.       Remaja menurut Piaget adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa aman, atau paling tidak sejajar.
Adapun remaja yang dimaksud peneliti adalah masa peralihan dari anak-anak menuju ke tahap pendewasaan.
b.      Konsep diri menurut Brehm & Kassin, 1993 (dalam Edwi Arief Sosiawan, 2013) adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki.
Adapun konsep diri yang dimaksud peneliti adalah penilaian terhadap diri, gambaran tentang diri yang ditafsirkan oleh individu itu sendiri baik negatif atau positif.
c.       Pola asuh menurut Syamsu Yusuf adalah model pola asuh atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orangtau dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga anak dewasa.
Adapun pola asuh yang dimaksud peneliti adalah suatu bentuk cara yang diterapkan oleh orangtua dalam mengasuh anak-anaknya hingga dewasa.
1.8  Kesimpulan
Remaja merupakan usia dimana seseorang sedang dalam keadaan mencari jati diri. Jati diri atau yang disebut dengan konsep diri (self concept) merupakan gambaran, penilaian terhadap diri baik positif atau negatif. Konsep diri pada remaja erat kaitannya dengan pola asuh yang diterapkan oleh orangtua. Pola asuh adalah sikap perlakuan yang diterapkan orangtua dalam pengasuhan terhadap anak.

BAB II
TINJAUAN LITERATUR
2.1 Pendahuluan
Dalam Bab II peneliti akan membahas pengertian remaja, konsep diri remaja, pola asuh orangtua, bentuk-bentuk konsep diri remaja, bentuk-bentuk pola asuh orangtua, dan kesimpulan.
2.2 Pengertian Remaja
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria (Mappiare,1982 dalam Mohammad Ali, Mohammad Asrori, 2009). Perkembangan remaja adolences memiliki arti yang cukup luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa aman, atau paling tidak sejajar (Piaget dalam Hurlock, 1991).
2.3 Konsep Diri Remaja
Konsep diri merupakan bagian terpenting dalam perkembangan kepribadian. Konsep diri merupakan representasi diri yang mencakup identitas diri yakni karakteristik personal, pengalaman, peran dan status sosial (Syamsul Bachri Thalib, 2010). Greenwald (Syamsul Bachri Thalib, 2010) menjelaskan konsep diri sebagai suatu organisasi dinamis didefinisikan sebagai skema kognitif tentang diri sendiri yang mencakup sifat-sifat, nilai-nilai, peristiwa-peristiwa, dan memori semantik tentang diri sendiri serta kontrol terhadap pengolahan informasi diri yang relevan. Konsep diri mengandung makna penerimaan diri dan identitas diri yang merupakan konsepsi inti yang relative stabil (Syamsul Bachri Thalib, 2010).
Brehm dan Kassin, 1993 (dalam Edwi Arief Sosiawan, 2013) mendefinisikan konsep diri sebagai keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat) yang dimiliki. Konsep diri diartikan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki individu tentang karakteristik dan ciri-ciri pribadinya (Worchel, 2000 dalam Edwi Arief Sosiawan, 2013).
2.4 Bentuk-Bentuk Konsep Diri Remaja
William D. Brooks (dalam Anwar Sutoyo, 2009) membagi konsep diri menjadi dua, yaitu:
a)      Konsep diri positif, ciri-cirinya adalah dapat menerima dirinya apa adanya dengan segala kekuatan dan kelemahannya, ia tidak merasa terancam atau cemas menerima informasi baru tentang dirinya, ia mampu bertindak berdasarkan penilaian tanpa merasa bersalah, ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk meluruskan kejadian masa lalu atau masa yang akan dating, ia mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan persoalan, ia merasa aman dengan orang lain, ia sanggup menerima pujian tanpa berpura-pura, ia peka terhadap kebutuhan orang lain, dan tidak senang hidup diatas penderitaan orang lain.
b)      Konsep diri negative, ciri-cirinya adalah ia peka terhadap kritik, tidak tahan pada kritik yang diterima dan mudah marah, respon sekali terhadap pujian, tidak dapat menyembunyikan situasi pada saat menerima pujian, mengeluh, mencela atau merendahkan orang lain, ia bersikap hiperkritis, tidak pandai dan tidak sanggup menggunakan penghargaan atau kelebihan orang lain, ia cenderung tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan, dan menganggap orang lain sebagai musuh, ia bersikap pesimis, enggan bersaing dengan orang lain, ia merasa tidak berdaya.
2.5  Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh adalah model pola asuh atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orangtau dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga anak dewasa (Syamsu Yusuf, 2002 dalam Nurus Safa’ah, 2009). Chabib Thoha (1996 dalam Nurus Safa’ah, 2009) mengemukakan bahwa pola asuh orangtua adalah cara terbaik yang dapat ditempuh otangtua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. Sedangkan Singgih D. Gunarso, 2000 (dalam Nurus Safa’ah, 2009) pola asuh orangtua merupakan perlakuan orangtua dalam interaksi yang meliputi orangtua menunjukkan kekuasaan dan cara orangtua memperhatikan keinginan anak. Kekuasaan atau cara yang digunakan orangtua cenderung mengarah pada pola asuh yang diterapkan.

2.6 Bentuk-Bentuk Pola Asuh Orang Tua
Menurut Baumrind (1991 dalam Santrock, 2003) bentuk-bentuk pola asuh orang tua ada tiga, yaitu:
1.      Pengasuhan Authoritarian (authoritarian parenting)
Adalah gaya yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orangtua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang bersifat autoritarian membuat batasan dan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit komunikasi verbal. Pengasuhan autoritarian berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang tidak cakap.
2.      Pengasuhan Autoritatif (authoritative parenting)
Yaitu mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. Komunikasi verbal timbal balik bisa berlangsung dengan bebas, dan orangtua bersikap hangat dan bersifat membesarkan hati remaja. Pengasuhan autoritatif berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang kompeten.
3.      Pengasuhan Permisif (permissive parenting)
Pengasuhan permisif tidak peduli adalah suatu pola dimana orangtua sangat tidak ikit campur dalam kehidupan remaja. Pengasuhan permisif memanjakan adalah suatu pola dimana orangtua sangat terlibat dengan remaja tetapi sedikit sekali menuntut atau mengendalikan mereka. Pengasuhan permisif memanjakan berkaitan dengan ketidakcakapan sosial remaja, terutama kurangnya pengendalian diri.
2.6  Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Konsep Diri Remaja
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Pola asuh orangtua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orangtua akan menjadi informasi bagi anak untuk menilai dirinya (Nurus Safa’ah, 2009). Pola asuh yang otoriter menjadikan anak memiliki sikap yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, merasa cemas dan menarik diri. Artinya anak dengan pola asuh asuh orangtua memiliki konsep diri yang negatif. Sedangkan pola asuh yang demokrasi menghasilkan anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan kooperatif terhadap orang lain. Pada pola asuh ini orangtua mampu menjadikan anaknya memiliki konsep diri yang positif. Adapun pola asuh permisif akan mengahasilkan anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, kurang percaya diri, agresif, kurang bertanggung jawab dan memiliki banyak masalah. Pola asuh yang permisif membuat anak memiliki konsep diri yang negatif.

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Pendahuluan
Pada bab III ini peneliti akan membahas tentang responden, tempat penelitian, pengumpulan data, proses pengumpulan data, analisis data, dan kesimpulan.
3.2 Responden
Adapun responden dari penelitian ini adalah “IH” yang merupakan seorang mahasiswa jurusan bimbingan dan konseling FKIP Universitas Syiah Kuala angkatan 2012. IH berusia 18 tahun, dia baik, ramah, suka bergaul serta dia juga memiliki kemampuan bidang akademik yang lebih.
3.3 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kawasan kampus FKIP Universitas Syiah Kuala, Darussalam. Baik saat responden sedang mengikuti perkuliahan, perkempulan dan interaksi dengan teman. Alasan peneliti memilih tempat tersebut karena letaknya sangat strategis.
3.4 Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini akan diperoleh melalui teknik observasi. Menurut Margono (Rahmadhani, 2011: 49) observasi adalah sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data informasi yang diperlukan dan dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada tempat penelitian
3.5 Proses Pengumpulan Data
Pelaksanaan pengumpulan data peneliti lakukan pada bulan Mei 2013. Peneliti mengamati setiap aktivitas yang berhubungan dengan responden.
3.6 Analisis Data
Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen, 1982 dalam Lexy J. Moleong, 2007) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Analisis data menggunakan model alir yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Rahmadhani, 2001) yang meliputi kegiatan:
1)      Mereduksi data
Mereduksi data adalah proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan semua data yang telah diperoleh, daro awal sampai penyusunan laporan penelitian. Reduksi data dilakukan antara lain dengan cara memilih, menyederhanakan, menggolongkan sekaligus menyeleksi informasi-informasi yang relevan sehingga peneliti dapat membuat kesimpulan.
2)      Penyajian data
Penyajian data dilakukan dengan mengorganisasikan data hasil menarasi reduksi dalam bentuk deskripsi sehingga memungkinkan p[enarikan kesimpulan berdasarkan kenyataan lapangan. Data tersebut ditafsirkan dan di evaluasi untuk dapat direncanakan tindakan lebih lanjut.
3)      Menarik kesimpulan data
Kegiatan ini mencakup pencarian makna dan memberi penjelesan. Selanjutnya dilakukan verifikasi yaitu menguji kebenaran, kekuatan dan kecocokan makna-makna yang muncul dara data. Verifikasi tersebut merupakan validitas/keabsahan dari data yang disimpulkan. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat kebenaran hasil analisis sehingga melahirkan kesimpulan yang dilakukan dengan menghubungkan hasil-hasil penelitian dengan teori para ahli dan akhirnya membuat suatu kesimpulan.
3.7 Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data observasi yaitu dengan cara mengamati responden. Tempat penelitian dilakukan di kawasan kampus FKIP Universitas Syiah Kuala.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pendahuluan
Dalam Bab IV peneliti akan membahas ddemografi, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan.
4.2 Demografi
Penelitian ini dilakukan di kawasan kampus FKIP Universitas Syiah Kuala, Darussalam. Baik saat responden sedang mengikuti perkuliahan, perkempulan dan interaksi dengan teman. Alasan peneliti memilih tempat tersebut karena letaknya sangat strategis.
4.3 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui observasi terhadap responden yang menyangkut dengan pengaruh pola asuh orangtua terhadap konsep diri remaja. Peneliti mencoba menuangkan dalam pemaparan sebagai berikut:
“IH” merasa kadang-kadang dimarahi oleh orangtuanya dan dimanjakan oleh orangtuanya. Tapi orangtuanya juga sering mengatur pergaulannya, ia tidak merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya karena mereka selalu berkomunikasi. Orangtuanya kadang-kadang terlalu mengekang. “IH” juga terkadang menunjukkan sikap yang merendahkan dirinya namun “IH” tidak pernah merasa kurang percaya diri. “IH” kadang juga merasa pesimis terhadap dirinya akan tetapi “IH” selalu menunjukkan sikap yang mandiri, sering bertanggung jawab dan tidak pernah tidak memiliki inisiatif.
4.4 Pembahasan
Hasil penelitian di lapangan melalui observasi terhadap responden diketahui bahwa pengaruh pola asuh terhadap konsep diri remaja. Dimana ada pengaruh dari pola asuh yang diterapkan oleh orangtua dengan konsep diri yang dimiliki remaja. “IH” yang memiliki sikap percaya diri, mandiri, mempunyai inisiatif, dan bertanggung jawab dikarenakan pola asuh yang ditrapkan oleh orangtuanya yaitu orangtua selalu dapat menjalin komunikasi dengan “IH” walaupun orangtua terlihat memarahi, kadang-kadang mengekang pergaulannya ataupun memanjakan tapi dibarengi sikap orangtua yang dapat mendisiplinkannya sehingga tidak pernah merasa tidak adanya perhatian orangtua. Orangtua “IH” telah menerapkan pola asuh yang demokratis padanya sehingga “IH” memiliki konsep diri yang positif karena memiliki sikap yang mandiri, dapat bertanggung jawab, punya inisiatif, dan percaya diri.
Ini sejalan dengan bentuk-bentuk pola asuh menurut Baumrind, (1991 dalam Santrock, 2003) yaitu: pola asuh yang demokratis akan menghasilkan anak yang mampu mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, bertanggung jawab, mandiri, mempunyai minat terhadap hal-hal yang baru dan kooperatif artinya anak memiliki konsep diri yang posotif. Sedangkan pola asuh yang otoriter membuat anak memiliki konsep diri yang negatif karena anak menjadi penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri. Pola asuh yang permisif akan membuat anak menjadi agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri, tidak mau mengalah sehingga memiliki konsep diri yang negativf.
4.5 Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orangtua terhadap konsep diri remaja. Hasil penelitian yang didapat dari observasi data dilapangan menyimpulkan bahwa pola asuh orangtua sangat berpengaruh terhadap konsep diri pada remaja. Hasil ini sesuai dengan teori tentang pola asuh orangtua dan konsep dri pada remaja. Jika pola asuh yang diterapkan orangtua adalah demokrasi maka anak akan memiliki konsep diri yang positif dengan menunjukkan sikap yang bertanggung jawab, mandiri. Pola asuh otoriter maka anak akan menjadi penakut, pendiam, tertutup sehinggan memiliki konsep diri yang negatif. Begitu juga dengan pola asuh yang permisif membuat anak memiliki konsep diri yang negative karena anak akan menunjukkan sikap yang agresif, manja, tidak patuh, kurang mandiri dan kurang percaya diri.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Dimana remaja beradaptasi dengan tumbuh kembangnya dan pembentukan konsep dirinya. Konsep diri adalah penilaian terhadap diri, gambaran terhadap diri yang ditafsirkan oleh individu sendiri baik positif atau negatif. Pembentukan konsep diri pada remaja dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan orangtua. Pola asuh yaitu sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orangtau dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga anak dewasa. Pola asuh demokratis menjadikan anak memiliki konsep diri yang positif sedangkan pola asuh yang otoriter dan permisif memnadikan anak memiliki konsep diri yang negatif.
5.2 Saran
Jika dalam penelitian ini terdapat berbagai kesalahan, kekurangan dan kekeliruan. Peneliti meminta maaf kepada para pembaca, selain itu peneliti  menanti kritik dan saran dari para pembaca, agar penelitian selanjutnya bisa lebih baik.

Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.
Rahmadhani. 2011. Analisis kebutuhan guru bimbingan dan konseling di kota lhokseumawe (suatu penelitian di SMP dan SMA Kota Lhokseumawe). Banda Aceh.
Sutoyo, Anwar. 2009. Pemahaman Individu. Semarang: Widya Karya.
Hurlock, E. B. 1978. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Sosiawan, Arief Edwi. 2013. Psikologi Sosial. (online) (http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id diakses pada 2 Juni 2013 pukul 10.00)
Moleong, Lexy J. 2007. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Ali, Muhammad dan Mohammad, Asrori. Psikologi Remaja. 2009. Jakarta: Bumi Aksara.
Safa’ah, Nurus. 2009. Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Konsep Diri pada Remaja Usia 15-18 Tahun di SMA PGRI Tuban.





Lampiran:
Kisi-Kisi Panduan Observasi
NO
PROSEDUR
KONSEP/VARIABEL/SUB VARIABEL
1
Tujuan
Mengetahui pangaruh pola asuh orangtua terhadap konsep diri remaja
2
Fokus
Pola asuh orangtua dan konsep diri remaja
3
Penjelasan dari studi pustaka
a.       Pola asuh orangtua menurut Syamsu Yusuf adalah model pola asuh atau sikap perlakuan yang dimiliki dan diterapkan orangtau dalam pengasuhan terhadap anak sejak usia kandungan hingga anak dewasa.
b.      Bentuk pola asuh orangtua menurut Baumrind:
1)      Pola asuh demokratis
2)      Pola asuh otoriter
3)      Pola asuh permisif
c.       Konsep diri menurut Brehm & Kassin adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri sifat ) yang dimiliki.
d.      Bentuk-bentuk konsep diri menurut William D. Brook mencakup:
1)      Konsep diri positif
2)      Konsep diri negative




PANDUAN OBSERVASI
1.      Tujuan observasi: Mengetahui pengaruh pola asuh orangtua terhadap              konsep diri remaja.
2.      Observer              :    Nurmutia
3.   Pelaksanaan         :    
a.       Hari/tanggal   :    Rabu, 12 Mei 2013
b.      Jam                 :    08.00 samapi 16.00

SKALA PENILAIAN
PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP KONSPE DIRI REMAJA
NO
AKTIVITAS
FREKUENSI
KET
1
2
3
4
1
Merasa dimarahi orangtua dalam keadaan apapun




2
Dimanjakan oleh orangtua




3
Orangtua sering mengatur pergaulan




4
Kurang diperhatikan orangtua




5
Komunikasi dengan orangtua




6
Orangtua terlalu mengekang




7
Merendahkan diri




8
Kurang percaya diri




9
Pesimis




10
Mandiri




11
Bertanggung jawab




12
Tidak memiliki inisiatif






Keterangan:
1= selalu
2= sering
3= kadang-kadang
4= tidak pernah







No comments:

Post a Comment

Cara Gampang Dapat Uang dari Internet